Priiiiiiit, mari kita kembali kepada akar budaya bangsa!

Di tengah era sosial media seperti facebook, twitter, yang semakin menggurita serta pengaruh budaya luar seperti film barat yang banyak menampilkan adegan baku hantam serta adegan dewasa, terlebih gaya dan dandanan artis-artis Korean-POP (K-POP) yang semakin menjangkiti anak-anak muda zaman sekarang, sebagai orang dewasa yang masih peduli dan mawas, sejatinya kita memperingatkan generasi kita saat ini supaya tidak kebablasan. Laiknya wasit sepak bola yang sedang memimpin jalannya pertandingan, sudah seharusnya kita memperingatkan mereka sejak dini sebagai pencegahan atas luntur dan tercerabutnya para generasi muda dari akar budaya bangsa. Kalau bukan mereka  yang mewarisi budaya kita, lalu mau siapa lagi?

Seharusnya kita malu kepada orang-orang di benua Amerika yang letaknya nun jauh di sana. Menurut artikel yang saya baca serta video yang saya simak pada (25/04/2012) yang berjudul Gamelan Pacifica – Liputan Feature VOA April 2012. Disebutkan bahwa ada lebih dari seratus kelompok gamelan yang tersebar di seluruh Amerika, salah satunya adalah Gamelan Pacifica.

Gamelan Pacifica

Screen Shot Video Feature Gamelan Pacifica

Kelompok gamelan yang telah berdiri sejak tahun delapan puluhan di bawah pimpinan Jarrad Powell, professor di fakultas musik, Cornish College of Art, Seattle, negara bagian Washington ini aktif melakukan pertunjukan di Amerika dan Kanada.

Menurut penuturannya, masih dalam liputan feature video yang sama, menjelaskan bahwa ia sangat menyukai gamelan jawa karena membawa nilai budaya yakni kegotongroyongan. “Gamelan bukan hanya alat musik tapi mentalitas atau budaya,  yang paling saya sukai bahwa gamelan benar-benar musik bersama masyarakat,  suasananya, setiap orang berkontribusi untuk keseluruhan (ensamble).  Lebih dari itu, pemain musik yang hebat dan yang biasa-biasa, bisa bermain bersama… hal ini tidak lazim untuk sebuah orchestra, inilah yang luar biasa dari gamelan”  katanya kepada VOA dengan antusias.

Merinding saya dibuatnya! Tidak hanya sampai di situ, bulu kuduk saya pun semakin menjadi-jadi ketika Kristina Sunardi, salah seorang anggota kelompok Gamelan Pacifica yang pernah belajar musik di Jogjakarta dan Malang menceritakan kepada reporter VOA dengan logat Inggris yang medok kejawa-jawaan bahwa ia sangat senang sekali tumuk (bahasa jawa, artinya, ikut atau turut serta) menjadi anggota Gamelan Pacifica apalagi ketika ada teman atau mahasiswa yang ingin mengenal Indonesia lebih dekat berkat belajar gamelan, ia sangat bangga.

“nje nami kulo Kristina Sunardi, kulo tumuk gamelan pacifica dadi anggota” pengalaman saya, ya kebanyakan ya positif sekali, saya bangga kalau saya bisa kenalkan, apalagi kalau ada mahasiswa sampai ingin ke Indonesia, ingin tau sendiri dari, seperti guru saya, atau siapa saja dari sana itu  saya bangga gitu.” Katanya bangga.

Jika gamelan bisa bicara mungkin dia akan bilang: Nah, kalau Kristina Sunardi, Jarrad Powell dan para mahasiswa Amerika saja — yang belum pernah datang ke Indonesia — bangga pada budaya Indonesia, kenapa kita yang mewarisi budaya bangsa justru seolah-olah “belajar melupakan budaya” sendiri? Sangat disayangkan sekali bukan?

Makannya, Priiiiiiit, mari kita kembali kepada akar budaya bangsa!

Lalu bagaimana caranya?

Caranya tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan, melainkan ada proses yang harus dilakukan.  Jika ada kemauan dan kesadaran yang tinggi, kita pasti bisa, asalkan semua pihak ikut bergotongroyong melestarikan budaya bangsa.

Pertama, bisa juga seperti yang dilakukan oleh siswa-siswi di Sekolah Pilar Indonesia,  sekolah nasional plus yang terletak di kawasan Cibubur, tempat di mana penulis bekerja. Sekolah tersebut turut melestarikan budaya bangsa lewat kebijakan kurikumnya  di sekolah.

 

Siswa Sekolah Pilar Kelas 4 SD bermain Angklung

Siswa Sekolah Pilar Kelas 4 SD bermain Angklung, Document Pribadi

Setiap hari Selasa dan Kamis, mewajibkan para siswa dan karyawan (staff dan guru) menggunakan batik dan mengadakan gathering (berkumpul bersama selama kurang lebih 30 menit untuk mendengarkan pengumuman dan refleksi belajar) di mana diselingi dengan menyanyikan lagu-lagu tradisional mulai lagu dari daerah Jawa, Bali, Sulawesi, Papua dan Sumatera,  diiringi pula dengan alat musik tradisional seperti Gondang, Gamelan Jawa,  Gamelan Bali, Angklung, Arumba dan lain-lain yang kadang juga dikolaborasikan dengan musik modern.

 

Siswa Kelas 2 Bermain Gamelan

Siswa Kelas 2 Bermain Gamelan Jawa, Document Pribadi

Siswa Kelas 7-11 Belajar Gamelan

Siswa Kelas 7-11 Belajar Gamelan Bali, Dokumen Pribadi

Bumi, siswa kelas 3 main alat musik Gondang diiringi keyboard

Bumi, siswa kelas 3 main alat musik Gondang diiringi keyboard, (doc. pribadi)

Kedua, kita juga sebagai orang tua atau pendidik bisa mengenalkan budaya kita mulai dari rumah, seperti dengan bercerita asal-muasal keluarga kita, bercerita dongeng, bercerita sejarah yang tentunya di dukung pula oleh sumber bacaan terpercaya dan bermutu atau dengan mengenalkan juga bahasa daerah kita. Jangan sampai kita baru terperangah dan marah-marah tidak jelas ketika cerita atau warisan budaya kita seperti batik atau tari Bali diakui/diambil oleh negeri tetangga. Karena salah kita sendiri yang tidak memeliharanya dengan baik.

Terakhir, mulai sekarang baiknya kita awasi anak-anak dan generasi kita dari tontonan dan pergaulan yang tidak sehat, yang menjadikan kita konsumtif, meniru-niru gaya dan a’la asing yang di luar batas sehingga berpotensi mendegradasi nilai-nilai budaya serta agama yang amat luhur. Baiknya kita mengenalkan generasi kita dengan wisata edukatif yang menumbuhkan kecintaan terhadap budaya bangsa seperti pergi ke museum, nonton pameran pendidikan atau seni budaya dan cenderung bermain permainan yang mendukung sportifitas.

Orang barat dan orang Korea, yang patut ditiru adalah ketekunan, kreatifitas dan pemikiran cerdasnya, yang terbukti banyak memberikan sumbangsih bagi dunia baik di bidang teknologi dan science, bukan gaya-gayaan dan kebebasan yang kebablasannya.

Maka, wahai generasi muda, jadilah orang Indonesia yang berbudaya Indonesia namun berpikiran mendunia.

 

Salam Blogger, semoga bermanfaat!

 

 

Kota Hujan, 7 Mei 2012

 

Posted in blog
Tagged , , , , , | 3 Comments

Menapaki Jejak Langkah Tiga Penulis Paling Inspiratif

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

~ Pramoedya Ananta Toer ~

**

Kata-katanya yang lugas dan cerdas selalu terngiang di pikiran saya; mampu mematik semangat saya untuk serius belajar dan mengasah hobi saya dalam menulis – walau masih dalam bentuk catatan kecil, monograf di komputer atau blog pribadi.

Pram atau biasa dipanggil mas Moek oleh orang-orang terdekatnya, kini jasadnya memang telah tiada namun ruh dalam tulisannya, semangatnya akan perjuangan merebut keadilan dan menentang tiran akan selalu hidup abadi sepanjang sejarah kehidupan.

Bayangkan, karya-karyanya yang terkumpul dalam Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca) sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing dan mendapatkan penghargaan bergengsi baik dari dalam dan luar negeri — adalah pencapaian yang sangat luar biasa bagi seorang penulis.

Buku Pramoedya dan Eka Budianta

doc.pribadi

Pram, tulisan-tulisannya sedikit banyak telah memengaruhi minat saya dalam dunia kepenulisan dan karya sastra. Itulah salah satu kehebatan penulis, dengan karyanya ia bisa mengubah sesuatu walau rentang jarak dan waktu telah memisahkan dengan pembacanya.

Selain Pram, ada juga nama Eka Budianta, walaupun namanya tidak setenar Pram, Eka Budianta yang mengawali karirnya sebagai wartawan di salah satu majalah terkenal di Indonesia juga merupakan seorang penyair, kumpulan sajaknya yang termasyhur adalah “Cerita di Kebun Kopi”. Namun yang paling membuat terkesan dan memengaruhi minat saya dalam menulis adalah kumpulan artikelnya yang dibikin menjadi sebuah buku bertajuk “Senyum Untuk Calon Penulis” — yang mendorong para calon penulis seperti saya untuk lebih kritis dalam berpikir dan dapat menuangkan gagasan dengan baik sehingga menjadi penulis sejati yang dapat memberi manfaat dan menginspirasi banyak orang.

Dari merekalah sedikit banyak saya belajar bagaimana menuangkan ide dan pikiran ke dalam sebuah tulisan selain juga terus belajar secara otodidak.

Ternyata tidak hanya Pram dan Eka Budianta saja yang mampu membikin para calon penulis dapat tersenyum dan semakin semangat untuk menulis, di Amerika baru-baru ini ada seorang penulis bernama Susan Stockdale, juga mampu menginspirasi saya untuk semakin serius menulis.

Jujur saya baru tahu namanya setelah tidak sengaja membaca artikel di situs berita VOA.

Dalam artikel yang dilansir VOA tertanggal 18 April 2012, yang berjudul “Penulis AS Gunakan Karyanya untuk Dekatkan Anak-anak pada Lingkungan“, digambarkan bagaimana Susan dapat menginspirasi banyak orang khususnya anak-anak untuk sadar akan pentingnya lingkungan.

Susan — lewat beberapa bukunya seperti “Bring on the Birds” yang memperoleh penghargaan dari komite Asosiasi Perpustakaan Amerika mengenai hewan serta “Some Sleep Standing Up” yang terinspirasi dari burung Flamingo dan “Stripes of All Types” buku tentang hewan di seluruh dunia dan garis-garis pada tubuh mereka yang unik — dirinya mengatakan bahwa ia merasa seperti aktivis lingkungan yang mendorong anak-anak untuk memusatkan perhatian pada keindahan alam. Ia meluangkan banyak waktu untuk menggambar dan melengkapi buku-bukunya dengan sajak-sajak.

Luar biasa sekali bukan? Ini dia satu lagi kelebihan dari seorang penulis!

Dari sketsa di atas, maka ketiga penulis tersebut pantas dijuluki sebagai “Tiga Penulis Paling Inspiratif” – paling tidak menurut versi saya pribadi.

Sebagai penulis atau blogger kita patut mencontoh kiprah para penulis di atas, dengan buah karyanya mereka dapat merubah kehidupan menjadi lebih baik dan memberi manfaat bagi banyak orang.

Mulai sekarang jika kita seorang blogger, jadilah blogger yang baik yang memuat konten penuh manfaat bagi pembaca. Begitu pula jika kita seorang penulis, jadilah penulis sejati yang menginspirasi dunia, apapun bidangnya baik lingkungan, teknologi, gaya hidup, kesusastraan atau pendidikan.

Jangan biarkan tulisan kita menjadi “sampah maya” — karena kelak katakanlah sepuluh atau dua puluh tahun mendatang, ketika, teman, tetangga, saudara, anak atau cucu kita sedang “berselancar” di internet kemudian tanpa sengaja menemukan tulisan kita, mereka akan bangga membaca tulisan kita yang berkualitas dan mengandung manfaat.

Selamat menulis… Semoga bermanfaat dan salam bloggers!

Oh iya, hampir lupa. Ngomong-ngomong siapa penulis yang menginspirasi anda?

Kota Hujan, 24 April 2012

Posted in blog
Tagged , , , , , , , , , , | 1 Comment

Kontrol rokok sekarang juga atau rokok yang akan mengontrol anda!

Jika kita ingin mengkampanyekan gerakan berhenti merokok hari ini nampaknya kita harus pintar-pintar menggunakan bahasa dan sugesti positif. Jika tidak, alih-alih ingin mendapat respon positif dan menimbulkan kesadaran para perokok untuk bertobat justru kita akan disuguhi muka masam atau bahkan batu bata, sumpah serapah, dan caci maki.

Jika anda bertanya mengapa, jawabannya adalah karena merokok merupakan kegiatan bersifat privat yang adiktif — yang datang dari hati dan alam bawah sadar seorang individu. Merokok itu bisa membikin ketagihan! Namun bukan berarti tidak bisa dihentikan.

Lalu bagaimana caranya?

Minggu lalu, saya berjumpa dengan kawan saya di Singapore, namanya Pak Weng. Ia adalah seorang warga negara Singapore keturunan Indonesia yang sudah puluhan tahun tinggal di sana. Sehari-hari ia menggunakan bahasa Melayu dan bahasa Inggris dengan baik juga sedikit-sedikit menggunakan bahasa Mandarin — kini ia bekerja menjadi seorang tour guide.

Saat kami ngobrol di sebuah kafe dan memesan minuman dingin, ia mengeluarkan sebungkus rokok, yang konon katanya produk Indonesia. Namun ada yang ganjil dengan bungkus rokok itu, sangat berbeda sekali dengan yang biasa saya lihat di Indonesia di mana begitu menarik dan terkesan elegan. Bahkan banyak iklan rokok di tv nasional yang bergaya feature yang begitu wah, seperti iklan yang menceritakan proses perjalanan seseorang dalam memperolah keberhasilan atau seorang maskulin dan pemberani yang mampu melintasi rintangan alam yang terjal, dan macam-macam lainnya seakan berbicara: “Ayo merokok, merokok itu keren, lho!”

bungkus rokok dan pak weng di singapore

(doc.pribadi) Pak Weng, dengan rokok di tangan

Bungkus rokok kawan saya itu justru sebaliknya, di sana terdapat gambar sepotong kaki manusia penuh borok dan nanah serta beberapa jarinya hilang. Di bawah gambar tersebut tertera dengan jelas peringatan yang berbunyi dalam bahasa inggris: Warning, Smoking Causes Gangrene! (Perhatian, merokok dapat megakibatkan penyakit Gangren!),

*)Gangren istilah kedokteran, semacam kanker kulit.

Seketika saya amati dan ambil dari tangan kawan saya itu, bulu kuduk saya langsung berdiri, perut saya pun terasa mual! Yuck!

Warning, Smoking Causes Gangrene!

(doc. pribadi) Warning, Smoking Causes Gangrene!

Saat saya tanya mengapa masih mau merokok walau dengan peringatan semacam itu, kawan saya itu menjawab dalam bahasa Indonesia yang lancar: “Saya sudah merokok selama 20an tahun, susah berhenti, walau sebenarnya ada rasa khawatir dengan kesehatan saya!”

“Ya berhentilah!” sahut saya sambil tersenyum.
“Iya nanti!” jawabnya singkat, yang juga dengan senyuman. “Kau sendiri gimana bisa berhenti?” tanyanya pada saya.

Terus terang, saya memang sudah coba-coba merokok sejak kelas lima SD. Waktu itu ketika ayah saya, teman-temannya, dan juga paman saya sering berkumpul di rumah untuk bersua sambil merokok. Ketika mereka sedang ke luar rumah untuk menghirup udara, waktu itu saya ambil rokok di atas asbak yang masih menyala dan kemudian saya hisap… fyuuuh, Mantap! Meniru adegan orang-orang dewasa itu.

Tidak berhenti sampai di situ kemudian saya ulangi hal yang sama ketika ayah saya sedang mandi atau sholat pada hari berikutnya, berlanjut dan berlanjut terus.

Saat beranjak pada usia pra-remaja saya menjadi perokok aktif sejak kelas satu SMP dan terus ketagihan hingga beberapa tahun berjalan,  dua bungkus per hari dengan rokok yang pada waktu itu termasuk paling mahal.

Karena merokok timbul dari hati saya yang paling dalam, pada suatu malam, saya merenung sendirian, setelah saya muntah karena habis minum minuman keras dengan kawan-kawan. Namun di kamar itu hati saya berbisik, “hal ini sudah kebablasan!” Waktu itu beberapa hari menjelang Ujian Nasional tahun 2004. Saya yang tadinya hanya ingin merokok kini rasa penasaran ternyata sudah kelewat batas.

Saat itu seakan ada yang meronta dalam tubuh saya dan bermonolog, betapa bodohnya saya disaat orang tua saya yang sedang tertidur lelap, bekal istirahat untuk besok pagi kerja, sementara saya klepas-klepus dan mabuk-mabukan, padahal waktu itu, ayah saya sudah berhenti merokok lantaran terkena paru-paru basah dan berkat dorongan dari ibu saya juga, supaya menjadi contoh yang baik bagi keluarga, katanya.

“Ini tidak bisa diteruskan!” dalam hati saya. “Bagaimana kelakuan anak saya kelak jika saya sudah berkeluarga jika saya saja seperti ini terus?”

Saat itu saya berjanji untuk berhenti merokok dan meninggalkan perbuatan yang “merusak” lainnya. Saya bersyukur dari situ, saya bisa lebih fokus belajar dan hidup lebih normal. Walhasil, saya pun berhasil lulus ujian nasional SMA dan masuk ke salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung. “Terima kasih Tuhan!” dalam hati saya.

Malam tadi setelah saya membaca berita VOA tertanggal 14 April 2012 yang berjudul Rokok Mentol Bisa Tingkatkan Risiko Stroke, yang mengulas bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa tembakau membunuh enam juta orang per tahun. Pusat Pemberantasan dan Pengawasan Penyakit Amerika mengatakan bahwa merokok menjadi penyebab 80 persen kematian akibat kanker paru-paru dan meningkatkan resiko penyakit jantung dan stroke.

Saya semakin bersyukur telah jauh-jauh hari bertobat dari menghisap rokok — terlebih saya juga dulu suka rokok menthol karena rasanya yang smriwing, cocok untuk daerah yang curah hujannya tinggi seperti tempat tinggal saya, hehehe! Namun mendengar pernyataan Vozoris, seorang dokter klinis di Rumah Sakit Saint Michael di Toronto, masih dalam artikel yang sama mengatakan pokoknya tidak ada yang disebut “rokok yang baik.” Semua rokok buruk untuk kesehatan kita.

Sekarang saya sudah bekerja, punya seorang istri dan punya anak yang pintar dan lucu, kami hidup tanpa asap rokok! Alhamdulillah… :)

 

Bagaimana menurut anda?


Salam Blogger, Semoga bermanfaat.
Kota Hujan, 20 April 2012
—————————————————————————

*) disclaimer: tulisan ini tidak bermaksud menggurui apalagi menyudutkan merek rokok tertentu baik dalam dan luar negeri, melainkan hanya berbagi sebuah sugesti positif dan cerita inspiratif untuk teman-teman yang ingin berhenti merokok.

 

twitter: @arsetega

Posted in blog
Tagged , , , , , , , | 4 Comments

Once upon a time in Singapore [photography]

Susahnya cari tukang Aqua gelas di Singapore…!

merlion, singapore

thirsty

 

Singapore River Cruise

Singapore River Cruise

 

Merlion, Singapore

Showering

 

Singapore River Cruise

 

Posted in blog
Tagged , , , , , , , , | Leave a comment